Jumat, 22 Maret 2013
Senin, 18 Maret 2013
Oishii Recipe
Musim semi ditandai dengan munculnya tunas baru pada tumbuhan. Tentu saja termasuk bunga-bunga. Musim semi adalah saat mekarnya bunga sakura, dan saat melakukan hanami, acara menonton bunga sakura. HANAMI telah tiba kembali dan disambut gembira seluruh rakyat di negeri sakura tanpa terkecuali. Inilah saat yang paling dinanti-nanti oleh semua warga Negara Jepang termasuk warga Negara asing yang sedang menetap di negeri sakura. Mekarnya bunga sakura di jepang mempunyai waktu yg berbeda-beda, dimulai di bulan Januari di Okinawa dan sampai di daerah kantou/Tokyo sekitar akhir Maret sampai April. Terakhir di Hokkaido pada bulan Mei.
Mekarnya bunga sakura dapat diartikan sebagai nasib baik, lambing cinta dan kasih sayang sebagai symbol dari musim semi. Hanami dan festifal bunga diadakan di Jepang setiap musim semi. Pada saat hanami, semua orang berkumpul untuk makan-makan dan minum-minum bersama sambil bernyanyi dan menari sepanjang malam di bawah rindangnya pohon sakura. Mereka kebanyakan membawa makanan sendiri dari rumah (bento), ada juga yang membeli dari penjual makanan.
Bento yang
sering dibawa saat hanami adalah bento sederhana namun dengan kapasitas yang
banyak, karena untuk makan bersama-sama dengan keluarga atau sanak saudara.
Pembuatan bento hanami sangat sederhana, sebagai berikut :
Membuat salad
kentang:
- Potong dan iris ketimun menjadi bentuk setengah lingkaran, simpan di mangkuk aduk bersama garam sampai merata, diamkan sampai layu, kemudian keringkan dengan tissue.
- Kupas kentang dan wortel iris menjadi 1/4 lingkaran, masak dalam air yang sudah diberi garam, hingga matang/lembut. Setelah itu tiriskan, cepat-cepat di hancurkan selagi hangat, tambahkan cuka, gula, lada hitam, kemudian aduk rata. Masukan mentimun tambahkan juga jagung dan mayonaise, aduk rata. Setelah dingin simpan di wadah (food cup/food devider) dan beri hiasan berupa tomat cheri.
Membuat tamagoyaki isi spinat:
- Potong spinat/bayam, pisahkan bagian batang dengan bagian daunnya, masak dalam air mendidih yang sudah diberi garam sampai layu, angkat dan masukan ke air es, peras airnya, kemudian pindahkan ke piring, siram dengan soy sauce/kecap asin, kemudian peras lagi perlahan.
- Panaskan wajan yang dilap dengan minyak.
- Kocok satu butir telur sampai rata dan masukan di wajan yang panas, masak sampai setengah matang, letakan spinat/bayam tadi dan gulung dengan menggunakan sumpit, angkat dan setelah dingin potong menjadi beberapa bagian.
- Saya pernah juga mempraktekkan resep ini dengan modifikasi, bisa ditengok di sini
Membuat labu madu:
- Potong labu menjadi beberapa bagian seperti yang ditunjukkan, goreng dalam minyak panas, angkat dan tiriskan, kemudian celupkan ke dalam madu. Setelah dingin, letakan dalam wadah (food cup/food devider) taburi dengan wijen hitam
Membuat apel bentuk kelinci:
- Potong apel menjadi 8 bagian, ambil 1/8 bagian, hilangkan bagian bijinya,
- Buat potongan bervola V dipermukaan kulit apel, kemudian kupas bagian kulit seperti yang ditunjukkan dan potong kedua ujung apel.
- Rendam apel dalam larutan garam.
- Bumbui potongan filet daging ayam dengan bumbu kimchi, aduk rata, biarkan beberapa waktu. tambahkan tepung kentang (potato starch), aduk dan goreng hingga matang.
Setelah bento siap, para
pengunjung juga tidak lupa dengan jajanan khas musim semi. Jajanan yang populer
saat hanami salah satunya adalah Dango (団子). Dango
merupakan salah satu wagashi yang terbuat dari tepung beras, biasanya disajikan
bersama teh hijau hangat. Dango memiliki banyak macam dan variasi yang
dibedakan berdasarkan pembuatan, penyajian atau pun musimnya.
Berikut beberapa diantaranya
adalah shiratama dango (bulat putih) yang kalau diberi saus teriyaki
mengingatkan saya pada penyajian wedang ronde tetapi tentu saja dengan
komposisi dan rasa yang berbeda, chichi dango (dango manis persegi) yang
manis mirip permen jelly, mitarashi dango (panggang) yang gurih dan
wangi favorit saya, Chadango (green tea), Kusadango (balur
kinako/tepung kedelai), goma dango (balur wijen) yang kalo versi
gorengnya jadi mirip onde-onde cuplis, anko dango (topping kacang
merah), Bocchan dango (tiga rasa)
yang tiap butir terdiri dari rasa kacang merah, telur dan green tea, hanami
dango (tiga warna) yang dibuat khusus musim semi.
Bocchan
Dango
(Source: wagashi-net.de)
Bahan:
( Isi )
( Isi )
৵
100
gr pasta shiro-an/lima bean/butter bean (kalau tidak ada bisa diganti dengan
pakai ubi jalar kukus yang dihaluskan)
৵
1
sdm tepung ketan
৵
2
sdm gula pasir
৵
¼
sdt garam
৵
air
panas secukupnya
Bahan
kulit :
৵
120
gr tepung ketan
৵
3
sdm tepung beras
৵
¼
sdt garam
Anko dango:
৵
50
gr anko (pasta kacang merah)
৵
2
sdm gula
৵
air
panas secukupnya
Kimi Dango:
৵
2
kng telur, kocok lepas
৵
2
sdm air panas
৵
2
sdm gula
৵
air
panas secukupnya
Matcha Dango:
৵
1
sdt green tea bubuk
৵
3
sdm gula
৵
1
½ sdm air
৵
air
panas secukupnya
৵
simple
syrup secukupnya.
Cara
membuat:
1. Isi: Campur semua bahan,
kukus 10 menit. Dinginkan, bentuk bulat. Sisihkan
2. Kulit: campur campur tepung
ketan dan tepung beras, bagi menjadi tiga bagian. Salah satu bagian tambahkan
green tea bubuk. Sisihkan.
3. Anko dango (dango merah) :
Campur dan panaskan gula dan pasta kacang merah hingga mendidih. Tambahkan
tepung, aduk rata. Tambahkan air panas sedikit-sedikit dan aduk hingga menjadi
adonan yang bisa dibentuk. Bentuk bulat kecil. Sisihkan.
4. Kimi dango (dango kuning) :
Campur gula dan air panas hingga larut. Tambahkan kuning telur, kocok hingga
rata. Panaskan diatas api sebentar hingga kental, aduk agar tidak lengket.
Tambahkan ke tepung. Aduk rata. Tambah air sedikit-sedikit hingga menjadi
adonan yang bisa dibentuk. Sisihkan.
5. Matcha dango (dango hijau)
: Campur gula dan air panas hingga larut. Tambahkan ke campuran tepung, aduk
rata. Tambah air sedikit-sedikit hingga menjadi adonan yang bisa dibentuk.
Sisihkan.
6. Penyelesaian : Ambil
masing-masing bulatan adonan. Pipihkan lalu isi dengan adonan isi. Bulatkan
kembali hingga rapi, basahi telapak tangan dengan simple syrup bila perlu.
Lakukan langkah yang sama untuk bulatan adonan lainnya. Ambil tusuk sate,
tusuk 3 buah adonan dango, masing-masing berurutan, yaitu hijau, kuning
dan merah. Kukus 10 – 12 menit. Sajikan segera.
Minggu, 17 Maret 2013
Objek-objek Wisata di Jepang
Musim dingin telah berlalu,
daun-daun bersemi, dan bungasa kura pun merekah sesudah salju menutupi. Musim
semi dengan keindahan alamnya mulai tampak. Sudah menjadi rahasia public jika warga
Jepang akan berbondong-bondong merayakannya kedatangan musim semi dengan
festival hanami. Selain itu, warga Jepang biasanya akan mengunjungi objek-objek
wisata yang ada untuk menikmati indahnya
musim semi.
Berikut adalah beberapa
spot wisata yang ramai dikunjungi warga Jepang, terlebih saat musim semi.
·
Ueno Park
Ueno Park sangat ramai dikunjungi
oleh wisatawan, baik local maupun internasional. Taman yang satu ini kerap kali
dijadikan tempat melakukan hanami. Kenapa? Alasannya karena di taman ini kita dapat melihat keindahan bunga sakura
yang bermekaran. Namun, pengunjung tak boleh lupa membawa jaket atau mantel agar
tak kedinginan ketika menikmati pemandangan indah itu dalam suhu yang rendah.
·
Biei
Biei adalah kota kecil
yang ada di Hokkaido. Meski tak memiliki objek wisata yang bisa dikunjungi,
kota ini menyajikan keindah analam yang luar biasa. Di sana pengunjung akan
mendapati pemandangan bukit bunga yang terhampar luas. Tentunya pengunjung tidak
akan merasa bosan melihat pemandangan indah nan alami.
·
The Japan Mint
The Japan Mint yang
berada di Osaka ini dibuka untuk public dalam seminggu pada bulan April. Jadi pengunjung
dapat menikmati pemandangan indah dari bunga sakura yang tengah bermekaran. Lebih
dari 1000 macam bunga sakura ada di tempat ini. Hal ini member kesempatan pada
pengunjung agar bisa membedakan berbagai bentuk dan ukuran dari bunga sakura.
·
Editorial Staff
EDITORIAL STAFF:
Hestyriani Anisa - @gyeouricha
Danang Rachmanda Fitri - @onewaydantaem
Taufik
Chairunnisa Nurhandayani - @NisaCNH
Serli - @cherrong_
Rizka Hanifah - @rizkahanifah
Wiga Shabrina Fathin
Putri - @Putri_Aulia_R
Apa Itu Himadol?
Himadol
adalah salah satu sub-divisi dari Divisi Kominfo atau istilah lainnya
Kementerian Komunikasi dan Informasi dari HIMAJE. Himadol adalah
singkatan dari Himaje Mading Dinding Online. Selain memberikan info
tentang Jepang dan aktivitas Himaje ada juga Himajeding yang memiliki
wilayah cakupan FIB yang divisualisasikan dalam bentuk Majalah Dinding.
Satu lagi, Himawari, yaitu media kominfo yaitu Majalah dalam bentuk
kertas!
Nah, Himadol ini sama seperti Himajeding namun kami khusus memberikan informasi tentang Jepang dan aktivitas Himaje dalam dimensi dunia maya yaitu Internet!! Dengan ini informasi yang diberikan menjadi lebih luas dan dapat juga mengenalkan Jepang juga Himaje ke dalam ruang lingkup lebih luas, kota, kabupaten, provinsi, dalam negara, bahkan Internasional *amin*. Misi kita adalah menyalurkan informasi dalam dunia maya tentang All About Japan dan juga aktivitas, event dll-nya Himaje dengan format yang dirancang sedemikian menarik agar dapat dimengerti dan menikmati informasi yang kami persembahkan khusus untuk kamu :D
Apa Itu Himaje?
HIMAJE
adalah Himpunan Mahasiswa Sastra Jepang Universitas Gadjah Mada. Dan
merupakan salah satu himpunan mahasiswa di Fakultas Ilmu Budaya UGM.
Himpunan ini berdiri pada tanggal 1 September 1989. Pada bulan Desember
2011 kemarin telah terpilih “Kaisar” HIMAJE yang baru memimpin pada
tahun 2012 ini. Omedetou Gozaimasu! HIMAJE banzai!
Sabtu, 16 Maret 2013
HINAMATSURI
Jepang,
di negara ini ada begitu banyak festival yang sangat menarik. Hampir setiap
musim selalu ada festival yang diselenggarakan. Salah satu dari banyak festival
yang ada pada musim Semi adalah Hinamatsuri.
Hinamatsuri diadakan setiap tanggal 3 Maret di Jepang yang
bertujuan untuk mendoakan pertumbuhan anak perempuan
dalam suatu keluarga. Keluarga yang memiliki anak perempuan memajang satu set boneka yang disebut
hinaningyō (雛人形, boneka
festival). Perayaan ini sering disebut Festival
Boneka atau Festival Anak
Perempuan karena berawal dari permainan boneka di kalangan putri bangsawan
yang disebut hiina asobi (bermain boneka puteri).
Satu
set boneka itu terdiri dari boneka kaisar, permaisuri, puteri istana (dayang-dayang), dan pemusik
istana yang menggambarkan upacara perkawina
tradisional yang ada di Jepang. Boneka itu memakai pakaian kimono gaya zaman Heian.
Sebelum hari perayaan tiba, anak-anak perempuan membantu orang tua mereka
mengeluarkan boneka dari kotak penyimpanan untuk dipajang. Sehari sesudah
Hinamatsuri, boneka harus segera disimpan karena dipercaya sudah menyerap
roh-roh jahat dan nasib sial.
Susunan Boneka
Di tangga paling atas terdapat
boneka kaisar dan permaisuri. Tangga kedua terdapat tiga boneka puteri istana.
Tangga ketiga terdapat lima boneka pemusik.
Tangga keempat terdapat dua boneka menteri. Tangga kelima terdapat tiga pesuruh pria. Tangga ke enam terdapat barang yang digunakan di dalam kediaman. Dan terakhir, tangga ketujuh terdapat barang yang digunakan ketika jauh dari kediaman.
Tangga keempat terdapat dua boneka menteri. Tangga kelima terdapat tiga pesuruh pria. Tangga ke enam terdapat barang yang digunakan di dalam kediaman. Dan terakhir, tangga ketujuh terdapat barang yang digunakan ketika jauh dari kediaman.
Hidangan
Hidangan istimewa untuk anak perempuan yang merayakan Hinamatsuri antara lain: kue hishimochi, kue hikigiri, makanan ringan hina arare, sup bening dari kaldu ikan tai atau kerang (hamaguri), serta chirashizushi. Dan minuman adalah sake putih (shirozake) dan sake manis (amazake).
Aoi Matsuri
Aoi Matsuri (葵祭) merupakan perayaan yang diadakan setahun
sekali pada bulan Mei di Kyoto, Jepang. Aoi Matsuri juga merupakan salah satu dari tiga
perayaan terbesar yang ada di Kyoto bersama-sama dengan Gion Matsuri dan Jidai Matsuri. Terdapat prosesi Rotō no gi (upacara
di jalan) yang merupakan puncak acara, berlangsung 15 Mei di dalam kota Kyoto.
Prosesi Rotō no gi merupakan rekonstruksi dari
iring-iringan pejabat istana yang menuju Kuil Shimogamo dan Kuil Kamigamoi untuk membawa pesan dan persembahan dari kaisar. Pria
dan wanita peserta prosesi mengenakan pakaian berwarna-warni seperti yang
dikenakan oleh kalangan bangsawan Jepang di zaman Heian (794-1185). Wanita dan anak-anak peserta iring-iringan memakai rias wajah yang
tebal seperti tata rias panggung.
Perayaan
ini disebut Aoi Matsuri karena daun tanaman Asarum caulescens (Futaba Aoi) dijadikan hiasan selama
perayaan, juga termasuk hiasan pada tutup kepala dan atap tandu. Aoi Matsuri
sudah lama dicatat dalam literatur Jepang sebelum abad pertengahan.
Sejarah
Di masa pemerintahan Kaisar Kimmei (540-571) terjadi kegagalan panen akibat cuaca buruk yang berkepanjangan. Rakyat
menderita wabah penyakit dan kelaparan, sehingga kaisar mengirim utusan ke Kuil
Kamo untuk menyampaikan pesan dan persembahan agar keadaan menjadi baik.
Musibah berakhir dan pejabat istana secara tetap mengunjungi Kuil Kamo. Upacara
diadakan di dua kuil Kamo sehingga juga dapat disebut Kamo Matsuri.
Di pertengahan zaman
Heian, bila hanya disebut "matsuri" maka yang dimaksudkan adalah Kamo
Matsuri. Di zaman Kamakura dan Muromachi, prosesi tidak dilangsungkan akibat
perang yang berkepanjangan. Perayaan dihidupkan kembali di Edo sekitar zaman Genroku.
Ketika ibu kota dipindahkan ke Tokyo pada tahun 1869, prosesi Aoi Matsuri juga tidak dilangsungkan.
Aoi Matsuri kembali
dilangsungkan di Kyoto pada tahun 1884 dengan maksud untuk menghidupkan kembali kota Kyoto. Selama Perang
Dunia II, upacara Shatō no Gi tetap dilangsungkan, tapi tidak diadakan prosesi.
Prosesi Aoi Matsuri kembali diadakan tahun 1953, dan diselenggarakan setiap tahun hingga sekarang.
Festival
Aoi
Matsuri dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian prosesi dan upacara suci.
Bagian prosesi dipimpin oleh utusan
kekaisaran. Utusan kekaisaran itu terdiri dari dua
gerobak sapi, empat
ekor sapi, tiga
puluh enam kuda,
dan enam
ratus orang.
Semua mengenakan pakaian
tradisional periode
Heian. Prosesi
dimulai pukul
10.30 pada tanggal
15 Mei,
meninggalkan Istana Kekaisaran Kyoto
dan perlahan-lahan
berjalan ke kuil Shimogamo
dan akhirnya ke kuil
Kamigamo. Ketika
mereka akhirnya
tiba di kedua
tempat suci, Saiō-Dai
dan Utusan
Kekaisaran melakukan ritual mereka.
Saiō-Dai
melakukan penghormatan kepada para dewa, sedangkan Utusan
Kekaisaran mengucapkan
perkataan yang memuji dewa
dan meminta
bantuan
selanjutnya.
Ada dua tokoh penting dalam Aoi
Matsuri, yaitu Saiō-Dai
dan Utusan Kekaisaran. Peran
Saiō dipercayakan kepada salah seorang putri Kaisar Saga yang diutus sebagai miko di Kuil Kamo. Di zaman sekarang, wanita yang memerankan
Saiō disebut Saiō-dai (斎王代 wakil Saiō) karena dipilih dari rakyat biasa.
Wanita yang dipilih sebagai Saiō-dai harus belum menikah dan berasal dari kota
Kyoto. Saiō-dai memakai rias wajah tebal dan gigi yang dihitamkan (Ohaguro). Jenis kimono yang dikenakan Saiō disebut Junihitoe (Karaginu Moshōzoku). Barisan wanita yang
mengelilingi Saiō-dai selama iring-iringan terdiri dari anak perempuan yang
disebut Menowarawa, dan wanita yang berperan sebagai penunggang kuda, pelayan
wanita (Uneme), dan pegawai istana.
Jadwal Matsuri:
Awal Upacara
- Yabusame Shinji: Upacara di Kuil Shimogamo untuk mendoakan keselamatan selama perayaan berlangsung. Penunggang kuda dengan kostum prajurit zaman Heian mempertontonkan keterampilan memanah dari atas punggung kuda yang sedang berlari.
- Saiō-dai Misogi Shinji: Wanita yang berperan sebagai Saiō-dai (bintang utama dalam prosesi) dan pengikutnya disucikan dalam upacara yang dilakukan secara bergantian setiap tahunnya di Kuil Kamigamo dan Kuil Shimogamo.
- Busha Shinji: Upacara melepaskan anak panah untuk menghalau arwah jahat yang dilangsungkan di Kuil Shimogamo.
- Kamo Kurabe Uma: Upacara memacu kuda sekencang-kencangnya di dalam lingkungan Kuil Kamigamo untuk memeriksa kondisi dan kesehatan kuda.
- Mikage Matsuri: Upacara penyambutan kedatangan arwah suci di Kuil Shimogamo dari Kuil Mikage di Gunung Hiei. Tari dan musik tradisional dipersembahkan di hutan bernama Tadasu no Mori, Kuil Shimogamo.
- Miare Shinji: Upacara tertutup yang dilangsungkan malam hari di Kuil Kamigamo. Tidak terbuka untuk umum.
Puncak Upacara (15 Mei)
- Prosesi Rotō no Gi: Prosesi dimulai dari Istana Kyoto (Kyoto Gosho) menuju Kuil Kamigamo dengan melewati Kuil Shimogamo. Puncak prosesi adalah barisan wanita pengiring bintang prosesi yang disebut Saiō-dai.
- Shatō no Gi: Upacara pembacaan pesan dan penyerahan persembahan di Kuil Shimogamo dan Kuil Kamigamo.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
